
Pekur
Kami saling berdekatan seperti ayah ibu.
Mengumpamakan jalan yang takselisih, yang taklekas usai dipandang.
Kantung-kantung beras kami beri doa. Sumur dan pekarangan kami jaga
seperti membaca potongan ayat yang kami sukai warnanya.
Namun kami kehilangan puji-pujian yang ingin sampai kepadamu
sebagian dari kami mengingat lagu-lagu, tetabuhan, pitutur dan pamali
sebagian yang lain membongkar silsilah keluarga, membaca darah, dan
rujukan-rujukan sampai kami menangis di dalamnya.
Lalu kami mulai belajar membuka pintu, membuka penutup kepala
berjalan seperti penandur pari di sawah sewaan. Kami tak menjumpai
apa-apa bila ditanya. Namun ada yang berwarna-warna menjalar dalam tubuh kami.
referensi : http://www.indonesiaseni.com/index.php?option=com_content&view=section&id=2&layout=blog&Itemid=3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar